Langsung ke konten utama

HADITS RIWAYAT BUKHARI TENTANG “KHUTBAH NABI DI ARAFAH”

 HADITS RIWAYAT BUKHARI TENTANG “KHUTBAH NABI DI ARAFAH”

  

صحيح البخاري ١٧١٠: حدثنا أبو الوليد حدثنا شعبة قال أخبرني عمرو بن دينار سمعت جابر بن زيد سمعت ابن عباس رضي الله عنهما قال

سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب بعرفات من لم يجد النعلين فليلبس الخفين ومن لم يجد إزارا فليلبس سراويل للمحرم

 

Shahih Bukhari 1710: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata: telah mengabarkan kepada saya 'Amru bin Dinar: aku mendengar Jabir bin Zaid: Aku mendengar Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata:

Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhuthbah di 'Arafah: "Barangsiapa yang tidak memiliki sepasang sandal hendaklah dia memakai sepatunya. Dan barangsiapa yang tidak memiliki kain sarung hendaklah dia memakai celana untuk ihram".

 

1. Syarhul Hadits

    Hadits diatas membahas mengenai tata cara berpakaian ketika ihram. Ketika ihram, terdapat pakaian yang halal tetapi haram dipakai ketika ihram. Muhrim dalam melaksanakan ihran diharamkan untuk memakai baju, topi (sorban), celana, dan khuf. Hadits diatas menjelaskan tentang keringanan dari Rosullullah dalam berpakaian ketika ihram yaitu apabila seorang muhrim tidak memiliki sepasang sandal maka ia boleh mengenakan sepatu dan muhrim yang tidak memiliki sarun atau kain maka ia boleh mengenakan celana.

    Masalah ini juga dijawab oleh Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam kitabnya Al Lu’lu wal Marjan. Beliau merujuk pada hadits dari Imam Bukhari kitab ‘Haji’ bab pakaian yang tidak boleh dikenakan oleh orang yang ihram.

Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "Pakaian apa yang harus dikenakan oleh orang yang sedang berihram muhrim?"

Rasulullah SAW menjawab, "Dia tidak boleh mengenakan baju, topi (sorban), celana, mantel juga khuf. Kecuali, seseorang yang tidak memiliki sandal, ia boleh mengenakan sepatu, tapi dipotongnya hingga dibawah mata kaki dan tidak boleh pula memakai pakaian yang dicelup dengan za'faran atau waras."  

    Hadits tersebut memeberikan penjelasan adanya syarat dengan diperbolehkannya mengganti ketiadaan sandal dengan sepatu yaitu sepatu tersebut harus dipotong hingga mata kaki sehingga kaki bagia atas tetap terbuka.

 

2. Takhrij Sanad

a) Abdullah bin Abbas bin abdul Muthalib bin Hasyim ( 619 - 687 M ), ( sahabat )

b) Jabir bin Zaid ( 641 - 711 M ),  (tsiqqah)

c) Amru bin Dinar Al Atsram ( 46 - 126 H ), ( tsiqqah)  

d) Syu’bah bin Al Hajjaj bin Al Warad ( 702 - 777 M )  , ( tsiqqah )

e) Hisyam bin Abdul Malik ( 691 - 743 ) , ( tsiqqah )

    Tinjauan sanad dari segi penisbatannya, semua sanadnya bersambung. Tidak ada keterputusan sanad. Dari segi kualitas, semua sanadnya tsiqqah tidak memiliki cacat. Maka hadits di atas termasuk dalam Hadits Shohih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar